Indikator
  • USD → IDR Jual: 13,311 • USD → IDR Beli: 13,325
  • EUR → IDR Jual: 14,082 • EUR → IDR Beli: 14,101
  • HKD → IDR Jual: 1,715 • HKD → IDR Beli: 1,717
  • JPY → IDR Jual: 116 • JPY → IDR Beli: 117
  • AUD → IDR Jual: 10,210 • AUD → IDR Beli: 10,226
  • SGD → IDR Jual: 9,371 • SGD → IDR Beli: 9,387
  • Emas Jual → 548,000 • Emas Beli → 523,000
  • Perak Jual → 10,900
  • Update Tanggal 15-02-2017
Khittah NU Jaga NKRI

NU Harus Kembali Mengurus Umat Bukan Mengurus Partai

Home / Peristiwa - Nasional / NU Harus Kembali Mengurus Umat Bukan Mengurus Partai
NU Harus Kembali Mengurus Umat Bukan Mengurus Partai Muhammad Balya Firjaun Barlaman, narasumber seminar Refleksi 33 Tahun Khittah NU di Situbondo, Rabu (11/1/2017). (Foto : Romi S/TIMESIndonesia)
Fokus Berita

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Acara seminar Refleksi 33 Tahun Khittah Nashdlotul Ulama (NU) yang digelar di Pondok Pesantren Salafiah Syafi'iah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur Rabu (11/1/2017) banyak menyoroti umat NU yang tidak paham tentang Khittah NU sendiri.

Hal ini dianggap sebagai kelemahan besar dalam tubuh organisasi terbesar di Indonesia, yang disebabkan pengurus organisasi ini jarang bertatap muka dengan umat (warga NU) karena pengurusnya sibuk mengurusi partai.

Dari situlah, para tokoh ulama NU menginginkan kembalinya Khittah 1926, bahwa organisasi berbintang sembilan ini harus kembali menjadi organisasi yang seutuhnya mengurusi keagamaan.

"NU bisa kembali menuju organisi keagamaan seutuhnya bila ada kesadaran pada setiap warga dan pengurus untuk kembali pada ajaran yang ada pada NU," kata Muhammad Balya Firjaun Barlaman yang menjadi narasumber dalam pembukaan seminar Refleksi 33 Tahun Khittah NU.

Namun kata anak dari KH Ahmad Siddiq yang juga sebagai salah satu perumus "maklumat keakraban" yang di tandatangani tujuh kiai lainnya seperti KH As'ad, KH Syamsul Arifin, KH Ali Ma'shum, KH Idham Cholid, KH Machrus Aly, KH Masjkur, KH Saifuddun Zuhri, tidak melarang kader NU untuk masuk ke dunia politik praktis. Namun hal itu harus dengan beberapa catatan.

"Ikut berpartai tidak dilarang, karena hak, namun jangan meninggalkan kewajiban menjadi kader NU," tuturnya.

NU sebagai organisasi agama terbesar menekankan bahwa semua yang dilakukan kader NU harus memiliki niat untuk membesarkan organisasi.

"Berpolitik bagian dari beragama, bila diniati mencari harta dan kedudukan saja, itu bagian yang akan mengrogoti NU itu sendiri," ucapnya. (*)

Berita Terkait

Komentar

Top
Tim.my.id Wawanita.com satriamedia.com