Indikator
  • USD → IDR Jual: 13,318 • USD → IDR Beli: 13,302
  • EUR → IDR Jual: 15,075 • EUR → IDR Beli: 15,053
  • HKD → IDR Jual: 1,716 • HKD → IDR Beli: 1,713
  • JPY → IDR Jual: 122 • JPY → IDR Beli: 122
  • AUD → IDR Jual: 9,706 • AUD → IDR Beli: 9,689
  • SGD → IDR Jual: 9,726 • SGD → IDR Beli: 9,707
  • Emas Jual → 546,000 • Emas Beli → 533,000
  • Perak Jual → 8,690
  • Update Tanggal 16-05-2016
Pengakuan Eks Anggota Gafatar (2)

Keseharian Bertani, Makan Nasi Sehari Sekali

Home / Peristiwa / Keseharian Bertani, Makan Nasi Sehari Sekali
Eks Anggota Gafatar saat sarapan bersama Bupati Pasuruan, Irsyad Yusuf di Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Pasuruan, Senin (25/1/2016) (Andi Hartik/pasuruantimes) Eks Anggota Gafatar saat sarapan bersama Bupati Pasuruan, Irsyad Yusuf di Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Pasuruan, Senin (25/1/2016) (Andi Hartik/pasuruantimes)

TIMESINDONESIA, PASURUAN – Seperti sudah terencana dengan matang, anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) dengan mudah membangun kehidupan baru di Moton Panjang, Desa Antiban, Kecamatan Mempawa Timur, Kabupaten Pempawa, Kalimatan Barat.Baca Juga: ("Hidup Damai, Itu yang Membuat Saya Rela Meninggalkan yang Disini")

Seperti yang dikatakan Edi Winarto, eks anggota Gafatar asal Kabupaten Pasuruan. Sesampainya di lokasi camp Gafatar di Moton Panjang, Desa Antiban, Kecamatan Mempawa Timur, Kabupaten Pempawa, Kalimatan Barat, dirinya langsung di sediakan tempat tinggal.

"Disana ada rumah kayu ukuran 4 x 4. Setiap rumah di tempati satu keluarga," katanya saat ditemui di Balai Latihan Kerja (BLK) Rejoso, Kabupaten Pasuruan, Senin (25/1/2016)

Menurut Edi, rumah kayu camp Gafatar di lokasi itu mulai banyak. Sebelum dibakar beberapa waktu lalu, sudah ada delapan unit rumah. Sementara setiap unit terdiri dari 10 rumah.

Mengenai aktivitas sehari-hari, Edi mengaku bercocok tanam. Seluruh anggota Gafatar urunan dan hasilnya buat beli tanah. Tanah itu yang dibuat anggota Gafatar bercocok tanam.

"Bertani, tanam kacang panjang juga," jelasnya.

Meski begitu, hasil panen bercocok tanamnya itu tidak lantas dijual. Melainkan untuk dimakan sendiri. Dalam sehari, para anggota Gafatar di lokasi tersebut hanya makan nasi sekali.

Edi juga mengaku sudah memiliki enam ekor sapi selama tinggal di camp Gafatar tersebut. Namun sapi-sapi itu harus ditinggalkan karena camp tempatnya tinggal dibakar.

"Sapi itu terakhir saya titipkan ke warga Suku Dayak. Sekarang sudah tidak tahu dimana," ungkapnya.

Akibat pembakaran itu pula, Edi banyak kehilangan barang berharga. Termasuk ijazah.(*)

Comments

Berita Terkait

Peristiwa Terpopuler

Ilustrasi Bandara Wirasaba-Purbalingga (Foto:kompasiana)

Bandara Wirasaba Purbalingga Ditarget Beroperasi Tahun 2018

18/05/2016 - 21:21

Rencana pengembangan Pangkalan Udara (Lanud) Wirasaba Purbalingga menjadi bandara komersial, terus diupayakan. Hal ini ditegaskan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, seusai kunjungannya di Rumah Sakit Umum Harapan Ibu (RSUHI) Purbalingga, Rabu (18/

Peristiwa Terbaru

Rektor IAI Nurul Jadid KH Dr Malthuf Siroj (Foto: Dok. ProbolinggoTIMES)

Ibu Bunuh Bayi, Tanda Religiusitas Masyarakat Merosot

24/05/2016 - 00:17

Kasus pembunuhan bayi oleh ibunya sendiri di Desa Karangrejo, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Probolinggo pada Minggu (22/5/2016) dini hari, merupakan tanda merosotnya rasa keberagamaan (Religiusitas) masyarakat.

Terbaru

Top