Indikator
  • USD → IDR Jual: 13,487 • USD → IDR Beli: 13,501
  • EUR → IDR Jual: 14,388 • EUR → IDR Beli: 14,407
  • HKD → IDR Jual: 1,736 • HKD → IDR Beli: 1,738
  • JPY → IDR Jual: 118 • JPY → IDR Beli: 118
  • AUD → IDR Jual: 9,982 • AUD → IDR Beli: 9,998
  • SGD → IDR Jual: 9,450 • SGD → IDR Beli: 9,466
  • Emas Jual → 552,000 • Emas Beli → 516,000
  • Perak Jual → 10,400
  • Update Tanggal 02-12-2016
Misteri Gafatar di Indonesia

Cerita Eks Gafatar Selama di Kalimantan

Home / Peristiwa / Cerita Eks Gafatar Selama di Kalimantan
Cerita Eks Gafatar Selama di Kalimantan Eka Febrianto (tengah) eks Gafatar saat konferensi pers di Dinsosnakertrans Lamongan, Minggu (24/1/2016). (Foto: Ardiyanto/lamongantimes)
Fokus Berita

TIMESINDONESIA, LAMONGAN – Eka Febrianto, eks Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) asal Lamongan menceritakan peristiwa tragis yang harus dialaminya bersama dengan rekan-rekannya di Mempawah, Kalimantan Barat (Kalbar).

Pria asal Desa Taji, Kecamatan Maduran, Lamongan ini menguraikan, rumahnya di pemukiman Gafatar di Mempawah, Kalbar tepat bersebalahan dengan rumah yang pertama kali di bakar oleh massa. “Saya disamping yang dibakar. Semua dibakar,” ucapnya.

baca juga: ‘Dipulangkan Paksa’ Eks Gafatar Asal Lamongan Galau​

Meski massa membakar pemukiman Gafatar, namun para anggota Gafatar di lokasi tidak memberikan perlawan. “Kita tidak boleh melawan. Kami kecewa dibakar, kita diusir, kita dirusuhi disana,” terang Eka.

Menurut dia, pemicu aksi massa untuk membakar pemukiman Gafatar adalah aliran sesat. “Menurut info kita adalah aliran sesat. Salat urusan pribadi, sebelum gabung Gafatar saya juga jarang salat,” aku pria yang mulai bergabung menjadi anggota Gafatar di Gresik.

Selama ini, sambung Eka, Gafatar adalah organisasi sosial dan bukan merupakan aliran keagamaan. “Gafatar sendiri umum, kita organisasi sosial tidak aliran. Saya juga punya teman agama lain.

Sosial, bentuknya gotong royong, kerja bakti,” ulasnya.

Lebih jauh, Eka mengaku, dirinya tetap memilih ikut pergi ke Kalimantan meski mendapat larangan orang tuanya. “Orang tua sudah tahu, tapi melarang,” lanjutnya.

Di Mempawah, para anggota Gafatar bercocok tanam. Pemilihan lahan di Kalimantan lantaran harga tanah disana murah. “Karena pulau jawa tanah mahal dan lahan juga sempit,” ujarnya. Meski, selama di pemukiman Gafatar Ia hanya mendapatkan fasilitas seadanya.

Sayangnya, saat ditanya apakah mengeluarkan dana selama bergabung ke Gafatar, Eka tidak menyebutkan secara pasti uang yang harus dikeluarkannya. “Seiklasnya, kalau nyumbang,” pungkas dia. (*)

Berita Terkait

Komentar

Top
Tim.my.id Wawanita.com satriamedia.com